Budaya dan Tradisi Khas Jepara

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Berbicara mengenai budaya, di Jepara memiliki beragam budaya dan tradisi khas yang mesti Anda tahu, mari kita simak satu persatu.

Perang Obor
 

Ini merupakan upacara sakral yang sangat dinanti-nantikan masyarakat Jepara. Kebudayaaan adat perang obor ini merupakan upacara tradisionla yang diadakan di kota Jepara tepatnya di desa tegal sambi setiap senin pahing pada bulan Dzulhijjah.

Obor-obor tersebut dibuat dari bahan pelepah kelapa yang dimainkan dengan cara di benturkan antara satu dengan lainnya. Dari benturan pelepah kelapa kering itulah yang menyebabkan percikan dan gumpalan api besar sehingga seperti perang api pada jaman dahulu kala.

Kegiatan ini sangat ramai dikunjungi oleh warga sekitar kota Jepara bahkan luar kota. Ini merupakan sebuah adat istiadat tradisional ang sedah lama terjadi dan turun-temurun hingga saat ini. Untuk menikmati pertunjukan ini anda tidak dipungut biaya, namun jika ingin melihat jangan dekat-dekat ya, nanti terkena sambaran api panas.

Pesta Baratan
 

acara adat yang kedua adalah pesta baratan, ini sebuah tradisi bagi warga kota Jepara yang dimana memiliki asal-usul untuk menghormati ratu kalinyamat. Kegiatan ini dilakukan setiap 15 Sya'ban tepatnya di desa Kriyan Kalinyamatan  Jepara.

Arti kata Baratan sendiri yaitu keselamatan atau berkah. Dalam acara baratan ini juga terdapat arak-arakan manusia dengna dandanan cantik seperti ratu kalinyamat, yang pada intinya yaitu arak-arakan ini ditujukan untuk mengawal ratu kalinyamat ke sebuah tempat. Antusias masyarakat lokal juga sangat luar biasa, hal ini terbukti dengan ramainya penonton ketika dilaksanakannya pesta baratan ini.

Perta Lomban

Ini merupakan sebuah pertanya para nelayan, kegiatan Lomban ini dilaksanakan pada 7/8 Syawal di pantai Kartini Jepara. Acara ini berlangsung ketika Bakda Kupat atau 1 minggu setelah hari raya Idul Fitri yang dilakukan untuk memberikan sedekah laut.

Kebudayaan  ini sudah menjadi tradisi dari nenk-moyang hingga saat ini, disini banyak sekali masyarakat kota Jepara ikut serta dalam memeriahkan acara ini. Puncak acara lomban ini adalah membuang beberapa sesajen di lautan lepas yang berarti sebagai ucapan syukur atas berkat yang didapatkan oleh nelayan warga Jepara dan juga sebagai ucapan permintaan agar mereka masih bisa mendapatkan hasil yang maksimal di lautan Jeapra dan sekitarnya.

Tari Tayub

Tari Tayub ini adalah kesenian pulau Jawa yang memiliki keindahan dan keserasian dalam gerakan. Tarian ini memiliki arti sebagai hubungan sosial hubungan masyarakat. Tari Tayub ini hampir sama dengan tari jaipong dan gambyong.

Emprak

Ini sebuah perpaduan antara kesenian dan budaya di kota Jepara. Memadukan antara musik, tari, dan drama ada didalamnya. Inti dari kesenian ini yaitu bertemakan tentang kehidupan manusia, selain itu pada alur cerita terdapat pesan moral untuk kehidupan sehari-hari.

Tari Kridadjati

Tarian ini merupakan tarian tradisional warga Jepara dalam melakukan aktivitas dibidang kesenian khususnya yaitu seni ukir khas kota jepara. Dalam tarian ini mengandung unsur dinamika, kesenangan, keindahan. Tarian ini biasanya dipentaskan ketika ulang tahun hari jadi kota Jepara setiap tahunnya.

Prasah

Di dalam sebuah pernikahan ada unsur pemberian dari mempelai pria kepada mempelai wanita yang disebut mahar atau mas kawin, Lazimnya mahar atau mas kawin dalam sebuah pernikahan berupa uang, perhiasan emas, atau pakaian yang mewah. Namun di Desa Sidigede, Welahan,  Jepara, Jawa Tengah, ada tradisi unik berkaitan dengan mas kawin atau mahar yaitu memberi mahar berupa seekor kerbau besar oleh mempelai pria kepada mempelai wanita.

Dalam proses pemberianya pun unik, tidak asal diberikan tetapi kerbau diarak dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, mula mulanya kerbau di mantrai oleh sesepuh desa agar kehilangan kendali dan merasa stres, dibantu warga yang juga berusaha membuat kerbau mengamuk dengan berbagai cara. Seperti melemparinya dengan berbagai macam jenis petasan dan juga lumpur yang basah, Meski sudah diikat di beberapa sisi dalam istilah desa “ Diberacut”, kemudian kerbau itu di arak oleh banyak orang dari anak anak, pemuda dan juga orang tua dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, kerbau gemuk itu terus mengamuk di sepanjang jalan dan mencoba menyerang orang-orang, Puluhan orang yang memegang tali pengikat kerbau dibuat  kewalahan karena kerbau itu hilang kendali. 

Warga Sidigde menyebut  Tradisi unik tersebut “Prasah”. Dalam proses pengarakan kerbau itu, tak sedikit membuat orang  yang cidera Baik cidera ringan seperti luka luka atau cidera berat seperi patah tulang, selain cidera dari orang orang yang mengaraknya banyak pula pagar pagar rumah dipinggir jalan yang ternuat dari bamboo rusak karena amukan dari kerbau itu.

Sesampainya kerbau di rumah mempelai perempuan, kerbau ditenangkan oleh sesepuh desa dengan mantra, selain membawa kerbau sebagai mahar, dalam tradisi pasrahan pengantin di desa Sidigede, mempelai pria juga membawa seperangkat peralatan memasak lengkap serta lemari yang terbuat dari kayu jati.

Dulu, mempelai pria desa Sidigede yang akan mempersunting gadis selalu membawa kerbau berukuran besar.karena dianggap sebagai simbol kehormatan mempelai laki laki  keluarganya, namun kini, seiring perjalanan waktu dan kian mahalnya harga kerbau, hanya warga kaya saja yang masih menjalankan tradisi prasah ini.

Jepara Thongtek Carnival

Jepara Thongtek Carnival disebut juga JTC adalah salah satu event atau acara rutin yang di selenggarakan Pemkab Jepara di bulan Ramadhan, untuk menjaga tradisi Thongtek di Jepara. Thongtek adalah tradisi membangunkan orang agar makan sahur, dengan cara berkeliling kampung, desa, kota dengan membunyikan alat musik tradisional yaitu Kentongan.

Asal usul budaya thongtek di Jepara adalah tradisi masyarakat Jepara untuk membangunkan warga yang masih terlelap tidur agar bangun untuk makan sahur, Karena makan sahur tersembunyi pahala. Dahulu yang melakukan thongtek adalah para santri-santri pondok pesantren yang di beri tugas piket untuk membangunkan sahur dari ustadz dan Kiyainya, seiring perkembangan zaman masyarakat umum ikut berpartisipasi untuk membangunkan sahur.
  • Acara pertama = Penilaian kostum + yel-yel + cara membunyikan alat musik untuk membangunkan warga
  • Acara kedua = Keliling kota jepara dengan seluruh kelompok peserta Jepara Thongtek  Carnival


Demikian Budaya dan Tradisi Khas Jepara, Jawa Tengah, bagaimana tartarik untuk mengunjunginya? Silahkan datang ke kota Jepara yang penuh dengan kerajinan seni ukirnya.