Budaya dan Tradisi Khas Cilacap

Cilacap terkenal dengan Bahasa Ngapak atau bisa disebut juga  dengan Dialeg Banyumasan dengan logatmedhok yang khas. Bahasa ini merupakan bahasa yang sehari-hari digunakan, tetapi beberapa juga ada yang tidak menggunakan bahasa ngapak ini. Setiap daerah pasti memiliki tradisi dan budaya yang berbeda-beda. Begitu pun Cilacap. Berikut tradisi tradisi Islam yang berada di Cilacap:

Budaya Sungkeman
Budaya ini masih dilakukan masyarakat sekitar sampai sekarang, bahkan sudah mengakar dalam kehidupan. Tradisi sungkeman biasanya dilakukan saat perayaan keagamaan, seperti hari raya Idul Fitri, dan saat ada acara pernikahan ataupun acara keluarga lainnya. Sungkeman dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada orang tua, dan biasanya dilakukan dengan mencium tangan orang tua sambil berlutut di hadapannya.

Tradisi Sedekah Laut
Tradisi ini masih dilakukan oleh masyarakat, khususnya kaum nelayan di Cilacap, Jawa Tengah. Tradisi ini dimaksudkan untuk memberi sesajen kepada penguasa laut selatan Nyai Roro Kidul, dengan tujuan untuk syukuran atas hasil laut yang telah didapat selama ini. Tradisi ini berupa ritual upacara dengan membawa kepala kerbau yang selanjutnya dibawa dengan perahu menuju ke tengah laut. Sedekah laut ini biasanya dilakukan setahun sekali. Meskipun tradisi ini menyimpang dari ajaran Islam dan termasuk perbuatan syirik, tapi masih belum bisa dihilangkan dari kehidupan masyarakat sekitar, dan masih banyak orang yang percaya akan hal-hal tersebut.

Tradisi peringatan 7, 30, 100, 1000 hari orang yang sudah meninggal
Tradisi seperti ini masih kental dilakukan warga masyarakat sekitar untuk memperingati orang yang sudah meninggal. Keluarga yang ditinggalkan biasanya mengirimkan makanan kepada kerabat-kerabatnya atau saudaranya, tujuannya agar bisa mengenang orang yang meninggal tersebut. Tradisi ini merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang, sehingga sangat sulit dihilangkan. Meskipun pada kenyataannya sekarang tradisi seperti ini sudah jauh berkurang dibandingkan dahulu

Ziarah kubur
Tradisi ziarah kubur biasanya dilakukan menjelang bulan puasa atau menjelang lebaran. Hal ini dilakukan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal. Tidak hanya kuburan keluarga dan orang-orang terdekat saja, tetapi kuburan para wali atau kiai juga diziarahi, tujuannya tidak lain adalah untuk mendapatkan berkah dan meminta doa.. Tradisi ini rutin dilakukan setiap tahun, dan biasanya orang pergi beramai-ramai menuju tempat ziarah membawa keluarga dan kerabat mereka.

Kesenian Ebeg
Ebeg adalah tarian unik khas Banyumas yang menggunakan kuda kepang sebagai alat tariannya. Tari ini menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Dalam pertunjukkannya ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe. Hal yang paling menarik dari tarian ini adalah ketika para penarinya kerauhan atau kemasukan roh yang dikendalikan oleh para dukun Ebeg. Mereka akan melakukan apa saja yang diminta oleh sang Dukun. Dari makan makanan yang tidak wajar seperti beling, atau serabut kelapa atau daun daunan sampai memanjat pohon kelapa dengan cepat akan mereka lakukan. Pertunjukan magis ini akan semakin seru ketika seorang penonton “ketempelan” roh dan menjadi salah satu penarinya. Jadi hati hati ketika anda menontonnya, jangan terlalu dekat kalau tidak mau ketempelan.

Kesenian Lengger
Sampai sekarang Tarian Lengger Banyumasan masih menjadi budaya tari yang melestari di daerah Banyumas dan sekitarnya. Kesenian ini umumnya disajikan oleh dua orang wanita atau lebih. Pada pertengahan pertunjukkan hadir seorang penari pria yang lazim disebut badhut, Lengger disajikan diatas panggung pada malam hari atau siang hari dan diiringi olah perangkat musik calung. Pada akhirnya nanti para penari ini akan mengajak anda untuk menari bersama mereka dan tradisinya adalah ketika penonton ikut menari, mereka akan memberikan uang saweran atau sumbangan. 

Itulah beberapa budaya yang terjadi di dalam masyarakat Jawa tengah, khususnya di Cilacap dan sekitarnya. Budaya-bdaya tersebut sudah mengakar di dalam kehidupan masyarakat sekitar, sehingga sangat sulit untuk diubah apalagi dihilangkan. Budaya terjadi secara turun-temurun dan mengalami proses yang lama untuk membentuk suatu pola pikir dan nilai-nilai yang terjadi di masyarakat.